Title : I Better Die
Author : Someone
Genre : Romance,sad,angst
Cast(s) : Lee Hyukjae,Lee Yongsang (OC)
Length : Oneshoot
Cha ! Author kembali dengan sad romance ! Di fanfic ini castnya Eun-Yong,tapi ini cerita gak ada hubungan sama sekali sama Eun-Yong yang di Lolita Complex.Kekekek~
Enjoy the story~~
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Author POV
“Pergi kau !! Yongsang tak membutuhkan seorang
namjachingu yang tak bertanggung jawab sepertimu !! Jangan pernah muncul di
hadapan Yongsang lagi !!” seru seorang namja berpenampilan sangar kepada
seorang namja lainnya yang tengah berlutut di hadapannya.
“Biarkan aku menemui Yongsang dan menjelasakan
semuanya hyung ! Jebal hyung…” pinta namja bernama Lee Hyukjae dengan penuh
harap.Bahkan ia sampai rela berlutut di hadapan namja berpenampilan sangar yang
bernama Michael Lee tersebut.
“Aku tidak akan membiarkanmu menemui Yongsang lagi !!”
gertak Michael seraya mencengkram kerah kemeja Hyukjae sehingga membuat Hyukjae
sedikit terangkat dari posisi berlututnya.
“Jebal hyung…” Hyukjae masih terus memohon dengan
suara dan wajah memelasnya.
Michael tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk
menanggapi permintaan Hyukjae.Ia justru menghempaskan tubuh Hyukjae sampai
tubuh Hyukjae membentur permukaan tanah halaman rumahnya.Rintihan kesakitan pun
lolos dari mulut Hyukjae ketika punggungnya membentur permukaan tanah dengan
cukup keras.
Blam !
Terdengar suara bantingan pintu yang berasal dari
rumah keluarga Lee.Rupanya Michael telah beranjak pergi dari hadapan Hyukjae
dan meninggalkan namja malang itu dengan rintihan-rintihan kesakitanya.
Hyukjae bangkit dari posisi jatuhnya secara
perlahan.Punggungnya masih terasa sakit karena punggungnya sempat membentur
beberapa kerikil yang tersebar.Kini kedua bola matanya mulai terlihat
berkaca-kaca.Isakan kecilnya pun mulai terdengar.
‘Andwae ! Kuatkan dirimu Lee Hyukjae ! Kau ini seorang
namja !’ batin Hyukjae untuk menyemangati dirinya sendiri.Ia pun segera
menghapus butiran air matanya yang telah siap untuk berjatuhan dan membasahi
wajahnya.
Hyukjae mendongakan kepalanya dan menatap lurus ke
arah sebuah jendela besar yang memperlihatkan isi kamar seorang yeoja yang kini
tengah menatapnya.Hyukjae menatap yeoja yang duduk di atas kursi roda tersebut
dengan tatapan nanar dan memohonnya.
Yeoja itu langsung memalingkan wajahnya dan memutar
balik kursi rodanya menjauhi jendela kamarnya.Hyukjae menghela nafas berat.Entah
ini sudah yang keberapa kalinya ia berusaha untuk menemui yeojachingunya yang
kini duduk di atas kursi roda.
Hyukjae bermaksud untuk menemui yeojachingunya yang
bernama Lee Yongsang untuk menjelaskan tentang dirinya yang menghilang selama
beberapa bulan setelah insiden yang dialaminya bersama yeojachingunya
itu.Insiden tabrakan mobil yang membuat seorang Lee Yongsang harus menghabiskan
sisa hidupnya di atas kursi roda.
“Yong-ah,jeongmal bogoshipeoyo…” gumam Hyukjae sebelum
ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir manis di tepi jalan.
Sementara itu Yongsang masih terus mengamati
gerak-gerik Hyukjae melalui jendela kamarnya.Sebenarnya tadi ia hanya sedikit
menjauh dari jendela kamarnya agar Hyukjae tak melihat sosoknya.
Cklek
Suara pintu kamarnya yang terbuka membuat lamunannya
buyar.Ia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang baru saja masuk
ke dalam kamarnya.Dan ia melihat sosok seorang namja yang berwajah mirip
dengannya.Lee Yongdae,saudara kembarnya.
“Yong-ah,gwaenchanayo ?” tanya Yongdae dengan penuh
perhatian.Lalu Yongdae melangkah mendekati Yongsang dan kemudian ia memeluk
tubuh saudara kembarnya itu.
Yongsang membalas pelukan Yongdae dengan
erat.Bulir-bulir air mata yang sedari tadi ia tahan,mengalir begitu saja dan
membasahi pundak Yongdae.Dengan penuh perhatian Yongdae membelai puncak kepala
Yongsang untuk menenangkannya.
“Uljima Yong-ah.Aku tak tahan lagi kalau harus
melihatmu terus menangis setelah Hyukjae datang untuk mencoba menemuimu.”
Yongdae terus membelai puncak kepala Yongsang dan berusaha menenangkannya.
Yongsang mengendurkan pelukannya dan menatap Yongdae
dengan wajahnya yang berurai air matanya yang masih terus mengalir.Yongdae
mengulas senyuman dan menghapus air mata Yongsang dengan jarinya.“Uljima.Kau
jelek sekali kalau menangis seperti ini Yong-ah.”
Tak ada sepatah katapun yang Yongsang berikan untuk
menanggapi celaan Yongdae.Ia hanya melayangkan sebuah pukulan ringan untuk
Yongdae.Ia seolah kehilangan kemampuan berbicaranya dan hanya mampu untuk
menangis tersedu-sedu.
“Yong-ah,sebaiknya kau membiarkan Hyukjae untuk
menemuimu lain kali.Kau harus segera menyelesaikan masalahmu dengannya.Dan kau
juga harus segera mengambil sebuah keputusan.Terus melanjutkan hubunganmu
dengan Hyukjae atau meninggalkannya di tengah permasalahan kalian ini.” ujar
Yongdae panjang lebar seraya duduk di hadapan Yongsang dan menggenggam kedua
tangan Yongsang dengan erat.
Yongsang menggeleng lemah,dan isakannya pun kembali
terdengar.“Aku tidak bisa Yongdae-ya.Aku tak sanggup kalau harus bertemu dan
berbicara dengannya.Aku memang masih merasa kecewa terhadapnya tapi aku juga
tak ingin mengakhiri hubunganku dengannya.”
Helaan nafas berat meluncur dari mulut Yongdae.Ia
merasa jika ia membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra untuk menyakinkan
saudara kembarnya itu untuk segera menemui Hyukjae dan menyelesaikan masalah
mereka.Yah,walaupun ia tahu bagaimana perasaan Yongsang yang masih tersakiti
dengan hilangnya Hyukjae setelah kecelakaan yang menimpanya dan Hyukjae.
“Cobalah menemuinya Yong-ah.Cobalah…”
Author POV end
Hyukjae POV
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan di atas
rata-rata menuju rumahku.Beberapa kali aku hampir menabrak mobil-mobil yang
melintas di sekitarku.Dan hal itu membuatku kembali teringat dengan insiden
kecelakaan yang merenggut kemampuan kedua kaki Yongsang.
“Arrrghh !!” aku memukul kemudi mobilku untuk
melampiaskan perasaanku.Perasaan bersalah itu lagi-lagi datang menyergap.
Untunglah aku segera sampai di kompleks
perumahanku.Kalau tidak,mungkin aku bisa mengalami kecelakaan untuk yang kedua
kalinya karena aku tak bisa memfokuskan diri untuk mengemudikan mobil.Perasan
bersalah itu benar-benar membuatku gila.
“Aku pulang.” gumamku setelah aku memarkirkan mobilku
dan masuk ke dalam rumahku.
Kulangkahkan kedua kakiku dengan gontai menuju salah
satu sofa yang terdapat di ruang keluarga.Aku pun mengambil tempat untuk duduk
di sebelah Lee Donghae -sepupuku- yang tengah asyik menonton acara televisi.
“Kau sudah pulang Hyukjae-ya ? Bagaimana ?” aku hanya
menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Donghae.
Sedetik kemudian aku merasakan tepukan di
bahuku.Rupanya Donghae menepuk-nepuk bahuku.Yah,mungkin ia bermaksud untuk
memberikan semangat kepadaku.Well,aku harus menghargainya,walaupun tindakannya
itu tidak memberiku semangat sedikitpun.
“Berjuanglah Lee Hyukjae ! Aku yakin kalau kau pasti
bisa segera bertemu dengan Yongsang dan menyelesaikan masalah kalian.Aku yakin
kalau Yongsang dapat mengerti setelah kau menjelaskan semuanya.” ujar Donghae
yang membuatku merasa sedikit terhibur.Seulas senyuman tipis kuberikan
untuknya.
“Gomawo Hae-ya.Tapi aku tidak tahu kapan aku bisa
menemui Yongsang.Michael hyung selalu mengusirku dan tidak mempebolehkanku
untuk menemui Yongsang.Bahkan kemarin Jonathan hyung sempat meneleponku untuk
memperingatkanku agar aku segera mengakhiri hubunganku dengan Yongsang.”
keluhku panjang lebar seraya memijit ringan kepalaku yang terasa pening.
Aku mendengar Donghae menghela nafasnya.“Mungkin
situasi ini memang sulit untukmu Hyukjae-ya.Memang tak mudah untuk menjelaskan
alasan kepergianmu setelah kecelakaan itu.”
Aku tersenyum getir mendengar perkataannya itu.Ya,ini
memang tak mudah untukku.Ini semua terasa begitu berat.
Aku tak dapat bertemu atau menemui Yongsang untuk
mengutarakan alasanku yang menghilang setelah kecelakaan itu.Mungkin
Yongsang,Michael hyung,dan Jonathan hyung mengira kalau aku meninggalkan
Yongsang dan tak ingin bertanggung jawab atas kelumpuhan yang dialami Yongsang.
Hanya Yongdae yang mau mendengarkan alasanku yang sebenarnya.
Sebenarnya,setelah insiden kecelakaan itu,aku
mendapatkan trauma terhadap mobil.Begitu aku membuka kedua mataku dan melihat
mobil yang terparkir di lapangan parkir rumah sakit untuk yang pertama
kalinya,aku langsung menjerit histeris dan meringkuk ketakutan.Hanya untuk
melihat mobil pun aku tak sanggup.
Akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk membawaku
menjalani terapi di luar negeri untuk menghilangkan traumaku itu.Memang tak
mudah untuk menghilangkan traumaku terhadap mobil yang telah memasuki tahap
terparah.Maka dari itu,aku harus menghilang selama 3 bulan dari kota Seoul
untuk menjalani terapi.
Dan hasilnya,aku kini bisa mengatasi traumaku terhadap
mobil.Bahkan aku mulai berani mengemudikan mobil seorang diri tanpa harus ada
yang menemani seperti saat aku baru selesai menjalani terapi.Aku sangat
bersyukur karena bisa mengatasi traumaku tersebut.
Tapi sebagai gantinya aku harus merelakan hubunganku
yang terbilang sangat romantis dan harmonis dengan Yongsang yang telah menjadi
yeojachinguku selama 2 tahun ini.Michael hyung langsung mengusirku ketika aku
datang menemui Yongsang untuk yang pertama kalinya setelah menghilang dari kota
Seoul.Sama halnya dengan Yongsang yang langsung menolak permintaanku yang ingin
bertemu dengannya.
Jujur saja,keadaan ini menyiksaku.Kini aku hanya bisa
melihat sosok Yongsang dari kejauhan.Atau bahkan aku sama sekali tak dapat
melihat sosoknya dengan senyum manisnya itu.Senyumnya seolah menghilang dari
dunia ini ketika ia melihatku atau bertatapan denganku.Ugh,aku tak sanggup jika
aku tak bisa lagi melihat senyumannya yang sangat kusukai.
“Hyukjae-ya,apa kau sudah meminta bantuan Yongdae ?”
pertanyaan Donghae kontan membuyarkan lamunanku.Aku mengerjapkan kedua mataku
dan beusaha menangkap pertanyaannya itu
“N-ne ? Bisa kau ulangi pertanyaanmu itu Hae-ya ?” aku
balik bertanya setelah aku dapat mengumpulkan seluruh kesadaranku setelah aku
menjelajahi memori tentang kecelakaan itu.
Kulihat Donghae kembali menghela nafasnya.Kemudian ia
kembali mengulangi pertanyaannya tadi.“Apa kau sudah meminta bantuan Yongdae
huh ?”
“Sudah,tapi itu tak banyak membantu.Yongdae terus
mengatakan kalau usahanya untuk menyakinkan Yongsang selalu gagal.Dan ia juga
berkata kalau Michael hyung melarangnya untuk membawa Yongsang bertemu
denganku.” jawabku yang diikuti dengan erangan kesalku.
Donghae langsung memeluk dan menenangkanku yang mulai
meneteskan air mata.Sungguh,semua ini begitu menyiksaku.Tak pernah aku
merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti yang tengah kurasakan saat
ini.
Aku membutuhkan Yongsang.Aku tak akan bisa hidup
tanpanya.
Hyukjae POV end
Author POV
“Yong-ah,apa kau mau ice cream ?” tanya Yongdae seraya
menunjuk-nunjuk seorang penjual ice cream di sudut taman yang tengah
dikunjunginya bersama Yongsang saat ini.
Yongsang mengalihkan pandangannya ke arah yang
ditunjukan oleh Yongdae.Kedua matanya terlihat berbinar-binar saat ia melihat
beberapa jenis ice cream yang mengundang seleranya untuk menikmatinya.“Tentu
saja aku mau Yongdae-ya !”
Yongdae tertawa kecil mendengar nada antusias milik
Yongsang.“Baiklah,baiklah.Aku akan membelikannya untukmu Yong-ah.Kau tunggu di
sini saja ne ?”
Yongsang tersenyum kecil dan menganggukan
kepalanya.Yongdae tersenyum sekilas untuk membalas senyuman Yongsang sebelum ia
beranjak pergi untuk membeli ice cream.Tak lupa ia mengunci kursi roda Yongsang
sebelum ia benar-benar beranjak pergi.
Senyuman Yongsang tak kunjung pudar.Suasana hatinya
dalam keadaan yang baik untuk saat ini.Ia seolah melupakan seluruh beban hidupnya
dan menikmati hembusan angin musim gugur yang menerpa wajahnya.
Kedua matanya
yang terlihat sendu menatap daun-daun berwarna kecoklatan yang berguguran dan
menutupi jalan setapak di taman tersebut.Ingin rasanya ia melompat ke atas
tumpukan dedaunan kering yang mengumpul di bawah pohon,seperti kebiasaannya
dulu bersama Hyukjae.
Sekelebat kenangan indahnya bersama Hyukjae terlintas
di benaknya,membuatnya tak dapat lagi menahan rasa rindunya akan kehadiran
sosok Hyukjae yang selalu menemaninya.Senyumannya pun tergantikan oleh bulir-bulir
bening yang mulai berjatuhan membasahi wajahnya.Ia tak dapat membohongi hati
kecilnya yang merindukan Hyukjae.
Selama ini ia terus berusaha menahan keinginannya
untuk bertemu dengan Hyukjae.Rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya seolah
membutakan akal sehatnya.Sehingga ia lebih memilih untuk menghindari Hyukjae
sampai rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya itu menghilang.Entah sampai
kapan ia akan terus bertahan untuk menghindari Hyukjae walaupun ia
merindukannya.
Suara dedaunan kering yang terinjak membuyarkan
lamunan Yongsang.Maka ia segera menghapus sisa-sisa air matanya dan berharap
agar Yongdae tidak menyadari perubahan pada kedua matanya yang terlihat sembab
saat ini.Kemudian ia memasang seulas senyuman dan mendongakan kepalanya.
“Kau lama sekali Yong—“ kata-katanya terputus begitu
saja saat ia melihat sosok seorang namja yang tengah berdiri di hadapannya saat
ini.Bukan seorang Lee Yongdae,melainkan seorang Lee Hyukjae.
Yongsang kembali menundukan kepalanya dan menolak
untuk membalas tatapan sendu dari Hyukjae.Akal sehat memaksanya untuk memendam
semua keinginan hati kecilnya yang merindukan Hyukjae.Walau ia harus menahan
rasa sakit yang terasa sangat menyakitkan pada hati kecilnya itu.
Hyukjae membungkukan badannya untuk menyamakan
tingginya dengan Yongsang yang duduk di atas kursi rodanya.Dengan perlahan
Hyukjae mendongakan kepala Yongsang dan memaksa yeoja itu untuk melihatnya.Mau
tak mau Yongsang mendongakan kepalanya dan menatap Hyukjae dalam-dalam.
Hyukjae mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir
mungil Yongsang.Sebuah kecupan singkat yang sarat akan rasa rindunya terhadap
yeoja yang telah berada di dalam pelukan eratnya saat ini.“Jeongmal
bogoshipeoyo Yong-ah.”
Pertahanan Yongsang runtuh seketika.Air mata yang
sedari tadi ia tahan kini mengalir begitu saja.Namun akal sehat kembali
memaksanya untuk tidak membalas pelukan Hyukjae yang sangat dirindukannya.
“Lepaskan aku Hyukjae-ssi.” ujar Yongsang dengan suara
paraunya yang nyaris tak terdengar.Akal sehat lagi-lagi memaksanya untuk
mengatakan kalimat menyakitkan itu.
Hyukjae menghela nafas berat dan melepaskan
pelukannya.Wajahnya yang selalu terlihat ceria kini terlihat muram.Bahkan
pancaran kebahagiaan yang biasa terpancar di kedua matanya kini tergantikan
oleh pancaran kesedihan yang mendalam.
“Mianhae,aku belum bisa berbicara denganmu untuk saat
ini Hyukjae-ssi.Mianhae.” lanjut Yongsang di tengah isak tangisnya yang
terdengar memilukan.
Hyukjae hanya terdiam dan menatap Yongsang dengan
tatapan nanarnya.Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Yongsang seakan
menambah dalam luka di hatinya.Dadanya terasa amat sesak saat ini,seolah tak
ada lagi oksigen yang dapat dihirupnya.
“Wae ?” tanya Hyukjae dengan suaranya yang mulai
terdengar parau.Air mata tampak mulai menggenangi kedua pelupuk matanya.
Yongsang tak langsung menjawab pertanyaan Hyukjae.Isak
tangisnya justru terdengar semakin keras setelah Hyukjae melontarkan
pertanyaannya dengan suara paraunya yang menyayat hati.Beberapa saat kemudian
barulah Yongsang membuka suara untuk menjawab pertanyaan Hyukjae.
“Hatiku masih belum siap Hyukjae-ssi…” jawab Yongsang
dengan suaranya yang nyaris tertelan oleh suara deruan angin musim gugur.
Hening.Tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh
Hyukjae ataupun Yongsang.Keduanya mematung dan terdiam seribu bahasa,seolah tak
ada lagi kata-kata yang dapat mereka ucapkan untuk memecahkan keheningan di
antara mereka.
“Sampai kapan ?” tanya Hyukjae yang memecahkan
keheningan di antara mereka berdua.Suaranya terdengar bergetar di tengah isak
tangisnya yang mulai terdengar.
Yongsang hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab
pertanyaan Hyukjae.Tiap kalimat yang akan diluncurkannya seolah tertahan di
tenggorokan,membuatnya tak mampu menjawab pertanyaan Hyukjae dengan kata-kata.
Hyukjae menghela nafas berat dan menghapus air
matanya.Kemudian ia mendongakan kepalanya dan menatap langit sore musim gugur
yang berwarna kemerahan.Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan air
matanya.
“Baiklah jika ini memang keinginanmu Yong-ah.Aku tak
akan menemuimu untuk sementara waktu.Atau bahkan mungkin…selamanya…” gumam
Hyukjae seraya kembali menundukan kepelanya dalam-dalam.
Yongsang mendongakan kepalanya dan menatap Hyukjae
dengan tatapan tidak percaya.Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan
Hyukjae.Namun entah kenapa ia merasakan suatu firasat buruk yang membuat
hatiinya bergejolak.
“A-apa maksudmu ?” tanya Yongsang dengan terbata.
Hyukjae mendongak dan menatap Yongsang dengan senyum
getir yang menghiasi wajahnya yang terlihat sedih.“Aku akan kembali menghilang
dari hadapanmu Yong-ah.Aku tak akan mengusik kehidupanmu lagi.Sepertinya
kehadiranku hanya akan membuatmu merasa terganggu.Mianhae…”
“Dan mungkin kali ini aku akan menghilang untuk
selamanya…” lanjut Hyukjae yang membuat Yongsang tersentak kaget mendengarnya.
Sebelum Yongsang sempat membuka mulut untuk bertanya
lebih lanjut,Hyukjae telah lebih dulu membalikan badannya dan beranjak pergi
meninggalkan Yongsang.Kedua kaki jenjangnya terus melangkah menuju ke tengah
jalan.
Inilah keputusan terakhirnya.Keputusan untuk
mengakhiri hidupnya saat ini juga.
Author POV end
Yongsang POV
“Dan mungkin kali ini aku akan menghilang untuk
selamanya…”
Aku tersentak kaget mendengar perkataannya itu.Firasat
burukku semakin menguat ketika aku dapat menangkap maksud dari perkataannya
itu.Apakah mungkin dia akan…
Belum sempat aku membuka mulutku untuk bertanya lebih
lanjut,Hyukjae telah lebih dulu beranjak pergi dari hadapanku.Perasaan khawatir
dan takut mulai menyergapku.Aku takut kalau ia akan benar-benar menghilang dari
kehidupanku untuk selamanya.Aku takut kalau ia akan segera mengakhiri hidupnya
saat ini juga.
Kulihat ia terus melangkah menuju ke tengah
jalanan.Aku kembali tersentak kaget begitu melihatnya yang terus melangkah
tanpa mempedulikan lampu penyebrangan yang telah berganti warna.
Entah kenapa seluruh tubuhku seperti kehilangan
kemampuannya saat ini.Aku tak dapat bergerak sama sekali,bahkan untuk
mengucapkan sepatah kata pun aku tak mampu.Aku hanya bisa terdiam di atas kursi
rodaku tanpa bisa mengalihkan pandanganku darinya yang telah berdiri di tengah
jalan.
“Yong-ah !” aku mendengar suara Yongdae yang berteriak
memanggil namaku.Aku menoleh kebelakang dan mendapati Yongdae tengah berlari
kecil ke arahku dengan dua cup ice cream di tangannya.
“Ini untuk—Eoh,kenapa kau menangis Yong-ah ?” tanya
Yongdae dengan wajahnya yang terlihat khawatir.Tidak seharusnya Yongdae
mengkhawatirkanku seharusnya ia mengkhawatirkan Hyukjae yang tengah berada di
ambang kematian.
“Hyukjae—dia—“ belum sempat aku menyelesaikan
kalimatku,aku mendengar suara klakson mobil yang terdengar cukup keras.
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Hyukjae
yang tetap berdiri di tengah jalanan tanpa mempedulikan nyawanya yang tengah
terancam.Kulihat mobil sedan berwarna hitam itu terus melaju dengan kencang ke
arah Hyukjae.
Jantungku seakan berhenti berdetak di saat aku melihat
jarak antara Hyukjae dan mobil sedan tersebut yang semakin dekat.Sekilas aku
dapat melihat senyuman terakhir yang menghiasi wajahnya.Sontak aku memejamkan kedua
mataku di saat mobil tersebut semakin dekat dengan Hyukjae dan akhirnya—
BRAAAK
!!
“Andwaeeee !!
Hyukjae-yaaa !!”
The end
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar