Sabtu, 03 November 2012

I Better Die


Title : I Better Die
Author : Someone
Genre : Romance,sad,angst
Cast(s) : Lee Hyukjae,Lee Yongsang (OC)
Length : Oneshoot

Cha ! Author kembali dengan sad romance ! Di fanfic ini castnya Eun-Yong,tapi ini cerita gak ada hubungan sama sekali sama Eun-Yong yang di Lolita Complex.Kekekek~



Enjoy the story~~
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Author POV
“Pergi kau !! Yongsang tak membutuhkan seorang namjachingu yang tak bertanggung jawab sepertimu !! Jangan pernah muncul di hadapan Yongsang lagi !!” seru seorang namja berpenampilan sangar kepada seorang namja lainnya yang tengah berlutut di hadapannya.
“Biarkan aku menemui Yongsang dan menjelasakan semuanya hyung ! Jebal hyung…” pinta namja bernama Lee Hyukjae dengan penuh harap.Bahkan ia sampai rela berlutut di hadapan namja berpenampilan sangar yang bernama Michael Lee tersebut.
“Aku tidak akan membiarkanmu menemui Yongsang lagi !!” gertak Michael seraya mencengkram kerah kemeja Hyukjae sehingga membuat Hyukjae sedikit terangkat dari posisi berlututnya.
“Jebal hyung…” Hyukjae masih terus memohon dengan suara dan wajah memelasnya.
Michael tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi permintaan Hyukjae.Ia justru menghempaskan tubuh Hyukjae sampai tubuh Hyukjae membentur permukaan tanah halaman rumahnya.Rintihan kesakitan pun lolos dari mulut Hyukjae ketika punggungnya membentur permukaan tanah dengan cukup keras.
Blam !
Terdengar suara bantingan pintu yang berasal dari rumah keluarga Lee.Rupanya Michael telah beranjak pergi dari hadapan Hyukjae dan meninggalkan namja malang itu dengan rintihan-rintihan kesakitanya.
Hyukjae bangkit dari posisi jatuhnya secara perlahan.Punggungnya masih terasa sakit karena punggungnya sempat membentur beberapa kerikil yang tersebar.Kini kedua bola matanya mulai terlihat berkaca-kaca.Isakan kecilnya pun mulai terdengar.
‘Andwae ! Kuatkan dirimu Lee Hyukjae ! Kau ini seorang namja !’ batin Hyukjae untuk menyemangati dirinya sendiri.Ia pun segera menghapus butiran air matanya yang telah siap untuk berjatuhan dan membasahi wajahnya.
Hyukjae mendongakan kepalanya dan menatap lurus ke arah sebuah jendela besar yang memperlihatkan isi kamar seorang yeoja yang kini tengah menatapnya.Hyukjae menatap yeoja yang duduk di atas kursi roda tersebut dengan tatapan nanar dan memohonnya.
Yeoja itu langsung memalingkan wajahnya dan memutar balik kursi rodanya menjauhi jendela kamarnya.Hyukjae menghela nafas berat.Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia berusaha untuk menemui yeojachingunya yang kini duduk di atas kursi roda.
Hyukjae bermaksud untuk menemui yeojachingunya yang bernama Lee Yongsang untuk menjelaskan tentang dirinya yang menghilang selama beberapa bulan setelah insiden yang dialaminya bersama yeojachingunya itu.Insiden tabrakan mobil yang membuat seorang Lee Yongsang harus menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda.
“Yong-ah,jeongmal bogoshipeoyo…” gumam Hyukjae sebelum ia melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir manis di tepi jalan.
Sementara itu Yongsang masih terus mengamati gerak-gerik Hyukjae melalui jendela kamarnya.Sebenarnya tadi ia hanya sedikit menjauh dari jendela kamarnya agar Hyukjae tak melihat sosoknya.
Cklek
Suara pintu kamarnya yang terbuka membuat lamunannya buyar.Ia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.Dan ia melihat sosok seorang namja yang berwajah mirip dengannya.Lee Yongdae,saudara kembarnya.
“Yong-ah,gwaenchanayo ?” tanya Yongdae dengan penuh perhatian.Lalu Yongdae melangkah mendekati Yongsang dan kemudian ia memeluk tubuh saudara kembarnya itu.
Yongsang membalas pelukan Yongdae dengan erat.Bulir-bulir air mata yang sedari tadi ia tahan,mengalir begitu saja dan membasahi pundak Yongdae.Dengan penuh perhatian Yongdae membelai puncak kepala Yongsang untuk menenangkannya.
“Uljima Yong-ah.Aku tak tahan lagi kalau harus melihatmu terus menangis setelah Hyukjae datang untuk mencoba menemuimu.” Yongdae terus membelai puncak kepala Yongsang dan berusaha menenangkannya.
Yongsang mengendurkan pelukannya dan menatap Yongdae dengan wajahnya yang berurai air matanya yang masih terus mengalir.Yongdae mengulas senyuman dan menghapus air mata Yongsang dengan jarinya.“Uljima.Kau jelek sekali kalau menangis seperti ini Yong-ah.”
Tak ada sepatah katapun yang Yongsang berikan untuk menanggapi celaan Yongdae.Ia hanya melayangkan sebuah pukulan ringan untuk Yongdae.Ia seolah kehilangan kemampuan berbicaranya dan hanya mampu untuk menangis tersedu-sedu.
“Yong-ah,sebaiknya kau membiarkan Hyukjae untuk menemuimu lain kali.Kau harus segera menyelesaikan masalahmu dengannya.Dan kau juga harus segera mengambil sebuah keputusan.Terus melanjutkan hubunganmu dengan Hyukjae atau meninggalkannya di tengah permasalahan kalian ini.” ujar Yongdae panjang lebar seraya duduk di hadapan Yongsang dan menggenggam kedua tangan Yongsang dengan erat.
Yongsang menggeleng lemah,dan isakannya pun kembali terdengar.“Aku tidak bisa Yongdae-ya.Aku tak sanggup kalau harus bertemu dan berbicara dengannya.Aku memang masih merasa kecewa terhadapnya tapi aku juga tak ingin mengakhiri hubunganku dengannya.”
Helaan nafas berat meluncur dari mulut Yongdae.Ia merasa jika ia membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra untuk menyakinkan saudara kembarnya itu untuk segera menemui Hyukjae dan menyelesaikan masalah mereka.Yah,walaupun ia tahu bagaimana perasaan Yongsang yang masih tersakiti dengan hilangnya Hyukjae setelah kecelakaan yang menimpanya dan Hyukjae.
“Cobalah menemuinya Yong-ah.Cobalah…”
Author POV end

Hyukjae POV
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumahku.Beberapa kali aku hampir menabrak mobil-mobil yang melintas di sekitarku.Dan hal itu membuatku kembali teringat dengan insiden kecelakaan yang merenggut kemampuan kedua kaki Yongsang.
“Arrrghh !!” aku memukul kemudi mobilku untuk melampiaskan perasaanku.Perasaan bersalah itu lagi-lagi datang menyergap.
Untunglah aku segera sampai di kompleks perumahanku.Kalau tidak,mungkin aku bisa mengalami kecelakaan untuk yang kedua kalinya karena aku tak bisa memfokuskan diri untuk mengemudikan mobil.Perasan bersalah itu benar-benar membuatku gila.
“Aku pulang.” gumamku setelah aku memarkirkan mobilku dan masuk ke dalam rumahku.
Kulangkahkan kedua kakiku dengan gontai menuju salah satu sofa yang terdapat di ruang keluarga.Aku pun mengambil tempat untuk duduk di sebelah Lee Donghae -sepupuku- yang tengah asyik menonton acara televisi.
“Kau sudah pulang Hyukjae-ya ? Bagaimana ?” aku hanya menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Donghae.
Sedetik kemudian aku merasakan tepukan di bahuku.Rupanya Donghae menepuk-nepuk bahuku.Yah,mungkin ia bermaksud untuk memberikan semangat kepadaku.Well,aku harus menghargainya,walaupun tindakannya itu tidak memberiku semangat sedikitpun.
“Berjuanglah Lee Hyukjae ! Aku yakin kalau kau pasti bisa segera bertemu dengan Yongsang dan menyelesaikan masalah kalian.Aku yakin kalau Yongsang dapat mengerti setelah kau menjelaskan semuanya.” ujar Donghae yang membuatku merasa sedikit terhibur.Seulas senyuman tipis kuberikan untuknya.
“Gomawo Hae-ya.Tapi aku tidak tahu kapan aku bisa menemui Yongsang.Michael hyung selalu mengusirku dan tidak mempebolehkanku untuk menemui Yongsang.Bahkan kemarin Jonathan hyung sempat meneleponku untuk memperingatkanku agar aku segera mengakhiri hubunganku dengan Yongsang.” keluhku panjang lebar seraya memijit ringan kepalaku yang terasa pening.
Aku mendengar Donghae menghela nafasnya.“Mungkin situasi ini memang sulit untukmu Hyukjae-ya.Memang tak mudah untuk menjelaskan alasan kepergianmu setelah kecelakaan itu.”
Aku tersenyum getir mendengar perkataannya itu.Ya,ini memang tak mudah untukku.Ini semua terasa begitu berat.
Aku tak dapat bertemu atau menemui Yongsang untuk mengutarakan alasanku yang menghilang setelah kecelakaan itu.Mungkin Yongsang,Michael hyung,dan Jonathan hyung mengira kalau aku meninggalkan Yongsang dan tak ingin bertanggung jawab atas kelumpuhan yang dialami Yongsang. Hanya Yongdae yang mau mendengarkan alasanku yang sebenarnya.
Sebenarnya,setelah insiden kecelakaan itu,aku mendapatkan trauma terhadap mobil.Begitu aku membuka kedua mataku dan melihat mobil yang terparkir di lapangan parkir rumah sakit untuk yang pertama kalinya,aku langsung menjerit histeris dan meringkuk ketakutan.Hanya untuk melihat mobil pun aku tak sanggup.
Akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk membawaku menjalani terapi di luar negeri untuk menghilangkan traumaku itu.Memang tak mudah untuk menghilangkan traumaku terhadap mobil yang telah memasuki tahap terparah.Maka dari itu,aku harus menghilang selama 3 bulan dari kota Seoul untuk menjalani terapi.
Dan hasilnya,aku kini bisa mengatasi traumaku terhadap mobil.Bahkan aku mulai berani mengemudikan mobil seorang diri tanpa harus ada yang menemani seperti saat aku baru selesai menjalani terapi.Aku sangat bersyukur karena bisa mengatasi traumaku tersebut.
Tapi sebagai gantinya aku harus merelakan hubunganku yang terbilang sangat romantis dan harmonis dengan Yongsang yang telah menjadi yeojachinguku selama 2 tahun ini.Michael hyung langsung mengusirku ketika aku datang menemui Yongsang untuk yang pertama kalinya setelah menghilang dari kota Seoul.Sama halnya dengan Yongsang yang langsung menolak permintaanku yang ingin bertemu dengannya.
Jujur saja,keadaan ini menyiksaku.Kini aku hanya bisa melihat sosok Yongsang dari kejauhan.Atau bahkan aku sama sekali tak dapat melihat sosoknya dengan senyum manisnya itu.Senyumnya seolah menghilang dari dunia ini ketika ia melihatku atau bertatapan denganku.Ugh,aku tak sanggup jika aku tak bisa lagi melihat senyumannya yang sangat kusukai.
“Hyukjae-ya,apa kau sudah meminta bantuan Yongdae ?” pertanyaan Donghae kontan membuyarkan lamunanku.Aku mengerjapkan kedua mataku dan beusaha menangkap pertanyaannya itu
“N-ne ? Bisa kau ulangi pertanyaanmu itu Hae-ya ?” aku balik bertanya setelah aku dapat mengumpulkan seluruh kesadaranku setelah aku menjelajahi memori tentang kecelakaan itu.
Kulihat Donghae kembali menghela nafasnya.Kemudian ia kembali mengulangi pertanyaannya tadi.“Apa kau sudah meminta bantuan Yongdae huh ?”
“Sudah,tapi itu tak banyak membantu.Yongdae terus mengatakan kalau usahanya untuk menyakinkan Yongsang selalu gagal.Dan ia juga berkata kalau Michael hyung melarangnya untuk membawa Yongsang bertemu denganku.” jawabku yang diikuti dengan erangan kesalku.
Donghae langsung memeluk dan menenangkanku yang mulai meneteskan air mata.Sungguh,semua ini begitu menyiksaku.Tak pernah aku merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti yang tengah kurasakan saat ini.
Aku membutuhkan Yongsang.Aku tak akan bisa hidup tanpanya.
Hyukjae POV end

Author POV
“Yong-ah,apa kau mau ice cream ?” tanya Yongdae seraya menunjuk-nunjuk seorang penjual ice cream di sudut taman yang tengah dikunjunginya bersama Yongsang saat ini.
Yongsang mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjukan oleh Yongdae.Kedua matanya terlihat berbinar-binar saat ia melihat beberapa jenis ice cream yang mengundang seleranya untuk menikmatinya.“Tentu saja aku mau Yongdae-ya !”
Yongdae tertawa kecil mendengar nada antusias milik Yongsang.“Baiklah,baiklah.Aku akan membelikannya untukmu Yong-ah.Kau tunggu di sini saja ne ?”
Yongsang tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya.Yongdae tersenyum sekilas untuk membalas senyuman Yongsang sebelum ia beranjak pergi untuk membeli ice cream.Tak lupa ia mengunci kursi roda Yongsang sebelum ia benar-benar beranjak pergi.
Senyuman Yongsang tak kunjung pudar.Suasana hatinya dalam keadaan yang baik untuk saat ini.Ia seolah melupakan seluruh beban hidupnya dan menikmati hembusan angin musim gugur yang menerpa wajahnya.
 Kedua matanya yang terlihat sendu menatap daun-daun berwarna kecoklatan yang berguguran dan menutupi jalan setapak di taman tersebut.Ingin rasanya ia melompat ke atas tumpukan dedaunan kering yang mengumpul di bawah pohon,seperti kebiasaannya dulu bersama Hyukjae.
Sekelebat kenangan indahnya bersama Hyukjae terlintas di benaknya,membuatnya tak dapat lagi menahan rasa rindunya akan kehadiran sosok Hyukjae yang selalu menemaninya.Senyumannya pun tergantikan oleh bulir-bulir bening yang mulai berjatuhan membasahi wajahnya.Ia tak dapat membohongi hati kecilnya yang merindukan Hyukjae.
Selama ini ia terus berusaha menahan keinginannya untuk bertemu dengan Hyukjae.Rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya seolah membutakan akal sehatnya.Sehingga ia lebih memilih untuk menghindari Hyukjae sampai rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya itu menghilang.Entah sampai kapan ia akan terus bertahan untuk menghindari Hyukjae walaupun ia merindukannya.
Suara dedaunan kering yang terinjak membuyarkan lamunan Yongsang.Maka ia segera menghapus sisa-sisa air matanya dan berharap agar Yongdae tidak menyadari perubahan pada kedua matanya yang terlihat sembab saat ini.Kemudian ia memasang seulas senyuman dan mendongakan kepalanya.
“Kau lama sekali Yong—“ kata-katanya terputus begitu saja saat ia melihat sosok seorang namja yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.Bukan seorang Lee Yongdae,melainkan seorang Lee Hyukjae.
Yongsang kembali menundukan kepalanya dan menolak untuk membalas tatapan sendu dari Hyukjae.Akal sehat memaksanya untuk memendam semua keinginan hati kecilnya yang merindukan Hyukjae.Walau ia harus menahan rasa sakit yang terasa sangat menyakitkan pada hati kecilnya itu.
Hyukjae membungkukan badannya untuk menyamakan tingginya dengan Yongsang yang duduk di atas kursi rodanya.Dengan perlahan Hyukjae mendongakan kepala Yongsang dan memaksa yeoja itu untuk melihatnya.Mau tak mau Yongsang mendongakan kepalanya dan menatap Hyukjae dalam-dalam.
Hyukjae mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir mungil Yongsang.Sebuah kecupan singkat yang sarat akan rasa rindunya terhadap yeoja yang telah berada di dalam pelukan eratnya saat ini.“Jeongmal bogoshipeoyo Yong-ah.”
Pertahanan Yongsang runtuh seketika.Air mata yang sedari tadi ia tahan kini mengalir begitu saja.Namun akal sehat kembali memaksanya untuk tidak membalas pelukan Hyukjae yang sangat dirindukannya.
“Lepaskan aku Hyukjae-ssi.” ujar Yongsang dengan suara paraunya yang nyaris tak terdengar.Akal sehat lagi-lagi memaksanya untuk mengatakan kalimat menyakitkan itu.
Hyukjae menghela nafas berat dan melepaskan pelukannya.Wajahnya yang selalu terlihat ceria kini terlihat muram.Bahkan pancaran kebahagiaan yang biasa terpancar di kedua matanya kini tergantikan oleh pancaran kesedihan yang mendalam.
“Mianhae,aku belum bisa berbicara denganmu untuk saat ini Hyukjae-ssi.Mianhae.” lanjut Yongsang di tengah isak tangisnya yang terdengar memilukan.
Hyukjae hanya terdiam dan menatap Yongsang dengan tatapan nanarnya.Kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Yongsang seakan menambah dalam luka di hatinya.Dadanya terasa amat sesak saat ini,seolah tak ada lagi oksigen yang dapat dihirupnya.
“Wae ?” tanya Hyukjae dengan suaranya yang mulai terdengar parau.Air mata tampak mulai menggenangi kedua pelupuk matanya.
Yongsang tak langsung menjawab pertanyaan Hyukjae.Isak tangisnya justru terdengar semakin keras setelah Hyukjae melontarkan pertanyaannya dengan suara paraunya yang menyayat hati.Beberapa saat kemudian barulah Yongsang membuka suara untuk menjawab pertanyaan Hyukjae.
“Hatiku masih belum siap Hyukjae-ssi…” jawab Yongsang dengan suaranya yang nyaris tertelan oleh suara deruan angin musim gugur.
Hening.Tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh Hyukjae ataupun Yongsang.Keduanya mematung dan terdiam seribu bahasa,seolah tak ada lagi kata-kata yang dapat mereka ucapkan untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
“Sampai kapan ?” tanya Hyukjae yang memecahkan keheningan di antara mereka berdua.Suaranya terdengar bergetar di tengah isak tangisnya yang mulai terdengar.
Yongsang hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Hyukjae.Tiap kalimat yang akan diluncurkannya seolah tertahan di tenggorokan,membuatnya tak mampu menjawab pertanyaan Hyukjae dengan kata-kata.
Hyukjae menghela nafas berat dan menghapus air matanya.Kemudian ia mendongakan kepalanya dan menatap langit sore musim gugur yang berwarna kemerahan.Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan air matanya.
“Baiklah jika ini memang keinginanmu Yong-ah.Aku tak akan menemuimu untuk sementara waktu.Atau bahkan mungkin…selamanya…” gumam Hyukjae seraya kembali menundukan kepelanya dalam-dalam.
Yongsang mendongakan kepalanya dan menatap Hyukjae dengan tatapan tidak percaya.Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Hyukjae.Namun entah kenapa ia merasakan suatu firasat buruk yang membuat hatiinya bergejolak.
“A-apa maksudmu ?” tanya Yongsang dengan terbata.
Hyukjae mendongak dan menatap Yongsang dengan senyum getir yang menghiasi wajahnya yang terlihat sedih.“Aku akan kembali menghilang dari hadapanmu Yong-ah.Aku tak akan mengusik kehidupanmu lagi.Sepertinya kehadiranku hanya akan membuatmu merasa terganggu.Mianhae…”
“Dan mungkin kali ini aku akan menghilang untuk selamanya…” lanjut Hyukjae yang membuat Yongsang tersentak kaget mendengarnya.
Sebelum Yongsang sempat membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut,Hyukjae telah lebih dulu membalikan badannya dan beranjak pergi meninggalkan Yongsang.Kedua kaki jenjangnya terus melangkah menuju ke tengah jalan.
Inilah keputusan terakhirnya.Keputusan untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga.
Author POV end

Yongsang POV
“Dan mungkin kali ini aku akan menghilang untuk selamanya…”
Aku tersentak kaget mendengar perkataannya itu.Firasat burukku semakin menguat ketika aku dapat menangkap maksud dari perkataannya itu.Apakah mungkin dia akan…
Belum sempat aku membuka mulutku untuk bertanya lebih lanjut,Hyukjae telah lebih dulu beranjak pergi dari hadapanku.Perasaan khawatir dan takut mulai menyergapku.Aku takut kalau ia akan benar-benar menghilang dari kehidupanku untuk selamanya.Aku takut kalau ia akan segera mengakhiri hidupnya saat ini juga.
Kulihat ia terus melangkah menuju ke tengah jalanan.Aku kembali tersentak kaget begitu melihatnya yang terus melangkah tanpa mempedulikan lampu penyebrangan yang telah berganti warna.
Entah kenapa seluruh tubuhku seperti kehilangan kemampuannya saat ini.Aku tak dapat bergerak sama sekali,bahkan untuk mengucapkan sepatah kata pun aku tak mampu.Aku hanya bisa terdiam di atas kursi rodaku tanpa bisa mengalihkan pandanganku darinya yang telah berdiri di tengah jalan.
“Yong-ah !” aku mendengar suara Yongdae yang berteriak memanggil namaku.Aku menoleh kebelakang dan mendapati Yongdae tengah berlari kecil ke arahku dengan dua cup ice cream di tangannya.
“Ini untuk—Eoh,kenapa kau menangis Yong-ah ?” tanya Yongdae dengan wajahnya yang terlihat khawatir.Tidak seharusnya Yongdae mengkhawatirkanku seharusnya ia mengkhawatirkan Hyukjae yang tengah berada di ambang kematian.
“Hyukjae—dia—“ belum sempat aku menyelesaikan kalimatku,aku mendengar suara klakson mobil yang terdengar cukup keras.
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Hyukjae yang tetap berdiri di tengah jalanan tanpa mempedulikan nyawanya yang tengah terancam.Kulihat mobil sedan berwarna hitam itu terus melaju dengan kencang ke arah Hyukjae.
Jantungku seakan berhenti berdetak di saat aku melihat jarak antara Hyukjae dan mobil sedan tersebut yang semakin dekat.Sekilas aku dapat melihat senyuman terakhir yang menghiasi wajahnya.Sontak aku memejamkan kedua mataku di saat mobil tersebut semakin dekat dengan Hyukjae dan akhirnya—
BRAAAK !!
 “Andwaeeee !! Hyukjae-yaaa !!”

The end
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar